Mentari.or.id II Pada hakikatnya, manusia dilahirkan dalam keadaan suci, bersih, tanpa dosa bawaan. Hal ini tergambar dalam sabda Rasulullah SAW, “Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah.” Artinya, setiap insan memulai kehidupannya dalam keadaan bersih dan lurus. 27/2/2026
Seandainya manusia mampu mempertahankan kefitrahannya, niscaya ia akan senantiasa hidup dalam ketenangan, ketenteraman, keamanan, dan kebahagiaan. Namun dalam perjalanan hidup, manusia tidak selalu mampu menjaga kesucian tersebut. Ia kerap melanggar perintah Allah Swt., meninggalkan kewajiban, serta melakukan apa yang dilarang agama. Dari situlah dosa mulai menodai hati.
Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap kali seseorang berbuat dosa, akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika dosa itu terus dilakukan, titik-titik tersebut akan semakin banyak hingga hati menjadi gelap dan menghitam.
Hadis ini menunjukkan bahwa dosa dapat mengotori bahkan merusak hati manusia. Padahal hati harus senantiasa dijaga dan dipelihara kebersihannya. Nabi juga bersabda bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging; apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah qalbu atau hati.
Artinya, dosa bukan hanya persoalan kesalahan perilaku, tetapi juga persoalan kerusakan hati. Jika hati telah rusak, kehidupan manusia pun akan ikut hancur.
Selain merusak hati, dosa juga melemahkan iman. Nabi bersabda bahwa iman dapat bertambah dan berkurang bertambah karena amal kebajikan dan berkurang karena perbuatan dosa. Jika iman telah redup dan hati telah gelap, seseorang akan sulit berbuat kebaikan. Hidupnya terasa sempit, resah, gelisah, bahkan dipenuhi kegundahan.
Allah Swt. berfirman, “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit.” (QS Thaha: 124). Kesempitan itu bukan hanya dalam arti materi, melainkan kesempitan jiwa—pikiran terasa terhimpit, hati terasa tidak lapang.
Lebih dari itu, dosa yang tidak dihapuskan akan berakibat pada siksa di alam kubur dan di akhirat kelak saat manusia menghadap Allah Swt.
Karena itu, betapa dahsyatnya dampak dosa terhadap hati, iman, dan pikiran manusia. Dosa harus dibersihkan. Tidak heran jika Rasulullah SAW senantiasa beristigfar, meskipun beliau adalah manusia pilihan yang terjaga dari dosa. Istigfar adalah bukti bahwa pembersihan diri merupakan kebutuhan yang terus-menerus.
Sebaliknya, pahala adalah balasan atas kebaikan yang dilakukan manusia. Pahala dapat membersihkan hati, menguatkan iman, serta mendorong seseorang untuk terus berbuat kebajikan. Pahala juga menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan dalam jiwa. Allah Swt. menegaskan bahwa dengan mengingat-Nya, hati menjadi tenteram (QS Ar-Ra’d: 28).
Ramadan: Momentum Penghapusan Dosa
Dalam konteks inilah puasa Ramadan memiliki makna yang sangat mendalam. Rasulullah SAW dan para sahabat menyambut kedatangannya dengan penuh kegembiraan. Nabi bersabda bahwa telah datang bulan yang penuh berkah; di dalamnya dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu. Di bulan itu pula terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatulqadar.
Mengapa demikian?
Karena Ramadan menyediakan banyak sarana bagi orang beriman untuk menghapus dosa yang merusak kehidupannya, sekaligus memperbanyak pahala yang akan membahagiakan hidupnya. Dengan demikian, puasa bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi sarana pemulihan spiritual.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Bahkan dalam hadis qudsi, Allah Swt. berfirman, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Ini menunjukkan betapa besar dan tak terhingga balasan bagi orang yang berpuasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan.
Puasa sebagai Kebutuhan Jiwa
Jika dosa merusak hati dan melemahkan iman, maka puasa adalah sarana pembersihnya. Puasa bukan hanya kewajiban yang harus ditunaikan, melainkan kebutuhan jiwa yang harus dipenuhi.
Dengan berpuasa, hati dibersihkan, iman dikuatkan, dan jiwa ditenangkan. Maka, Ramadan seharusnya disambut dengan kegembiraan, karena ia adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri.
Pada akhirnya, kita memahami satu hal penting:
Puasa bukan sekadar kewajiban syariat, tetapi kebutuhan mendasar bagi kesehatan hati dan keselamatan hidup manusia, di dunia maupun di akhirat.
Penulis: Drs. H. Sholikin Jamik, S.H., M.H. (Ketua KBIHU Masyarakat Madani Bojonegoro)
![]()





