Pengajian Rahmatan Lil Alamin: Agar Ramadan Tidak Berlalu Begitu Saja

Share

Mentari.or.id II SUMBERREJO, 1 Maret 2026 – Takmir Masjid At-Taqwa Sumberrejo kembali menggelar Pengajian Rutin Rahmatan Lil Alamin pada Sabtu (1/3/2026) pukul 16.00–17.00 WIB. Kegiatan yang dilaksanakan setiap tanggal 1 dan 15 ini menghadirkan penceramah Ustaz Dr. Nurdiansyah, S.Pd., M.Pd., Ketua STTM AR Fachrudin Sumberrejo.

Dalam tausiyahnya yang bertema “Agar Ramadan Tidak Berlalu Begitu Saja”, Ustaz Nurdiansyah mengajak jamaah menyambut bulan suci Ramadan dengan penuh kesadaran, keikhlasan, serta kesiapan lahir dan batin.

Ia menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan yang datang dan pergi tanpa makna, melainkan bulan istimewa yang membawa keberkahan bagi akal dan hati. Menurutnya, Ramadan menjadikan pikiran lebih sehat, hati lebih jernih, serta jiwa lebih terkendali. Melalui ibadah puasa, umat Islam dilatih menahan diri, meluruskan niat, dan meningkatkan kualitas ibadah.

Sebagai landasan rasa syukur, ia mengutip firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 7 yang menegaskan bahwa siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya oleh Allah. Oleh karena itu, kehidupan harus dijalani dengan penuh keikhlasan karena segala yang dimiliki merupakan karunia Allah Swt.

Dalam pemaparannya, Ustaz Nurdiansyah menjelaskan bahwa manusia dianugerahi empat “sensor” utama sebagai keistimewaan yang membedakannya dari makhluk lain.

Pertama, sensor tubuh, yakni pancaindra yang terhubung dengan hati. Melalui penglihatan, pendengaran, dan perasaan, manusia dapat menangkap berbagai informasi. Namun, semuanya harus dikendalikan oleh hati agar tidak menyimpang dari kebenaran.

Kedua, sensor nafsu. Dalam Islam dikenal tiga tingkatan nafsu, yaitu nafsu amarah (cenderung pada keburukan), nafsu lawwamah (menyesali kesalahan), dan nafsu mutmainnah (jiwa yang tenang). Orang yang beruntung adalah mereka yang mampu mencapai derajat nafsu mutmainnah, yakni jiwa yang tunduk dan taat kepada Allah.

Ketiga, sensor akal. Akal menjadikan manusia mulia. Ia menyebutkan dua golongan yang dijanjikan kebaikan, yakni golongan berilmu dan golongan beriman. Untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat diperlukan ilmu. Ramadan menjadi sarana menyehatkan akal, memperkuat iman, dan meningkatkan kualitas diri sebagai hamba Allah.

Keempat, sensor qalbu (hati). Hati merupakan pusat kendali kehidupan manusia. Kondisi hati terbagi menjadi tiga, yaitu qalbun mayit (hati yang mati), qalbun maridh (hati yang sakit), dan qalbun salim (hati yang selamat). Qalbun salim adalah hati yang bersih dan menjadi kunci keselamatan di sisi Allah.

Dari keempat sensor tersebut, ia menegaskan bahwa qalbu (hati) menjadi faktor paling menentukan dalam kesuksesan seseorang. Manusia telah diberi anugerah tersebut secara cuma-cuma oleh Allah, sehingga menjadi tanggung jawab setiap individu untuk menggunakannya secara benar. Kesempurnaan memang bukan milik manusia, tetapi upaya memperbaiki diri adalah kewajiban.

Menurutnya, Ramadan sejatinya adalah madrasah kehidupan, tempat pendidikan dan latihan perbaikan diri. Di bulan suci ini, umat Islam dilatih untuk jujur meski tidak diawasi, sabar menahan lapar dan amarah, serta peduli terhadap sesama. Tujuannya agar setelah Ramadan berlalu, kualitas iman dan akhlak semakin meningkat.

Sebagai penutup, Ustaz Nurdiansyah menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum transformasi diri menuju insan yang lebih bertakwa, ikhlas, dan dekat dengan Allah Swt.

Melalui pengajian ini, diharapkan jamaah Masjid At-Taqwa Sumberrejo semakin termotivasi menjadikan Ramadan sebagai titik balik perubahan, sehingga bulan suci tidak berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak kebaikan dalam kehidupan.

Kontributor: Elwandi

Loading

Admin

Salah satu rakyat biasa di negara Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *