MENTARI.OR.ID II Gema takbir mulai membelah kesunyian malam, memenuhi langit dan dada. Ada rasa haru yang menjalar, sebuah getaran yang sulit dijelaskan. Di satu sisi, kita bersukacita menyambut hari kemenangan. Namun, di sisi lain, hati kita teriris saat melepas perginya Ramadan—tamu mulia yang hanya hadir setahun sekali dan tak bisa kita panggil kembali. (21/03/2026)
Satu bulan yang lalu, banyak dari kita berjanji. Ramadan ini akan berbeda: lebih khusyuk, lebih dekat kepada Allah. Namun, apa yang terjadi? Tarawih kita tinggalkan karena lelah. Al-Qur’an kita buka, tetapi tidak kita selesaikan. Doa yang kita tunda terus kita tunda hingga Ramadan berlalu begitu saja.
Kemarin, Ramadan masih memeluk kita dengan ampunan-Nya. Pintu surga dibuka lebar dan setan dibelenggu. Namun, hari ini, tamu agung itu telah melangkah pergi, membawa serta catatan sujud, tetesan air mata tobat, serta lapar dan dahaga kita. Kita pun sering diliputi cemas: apakah amal kita diterima, atau justru kita termasuk golongan yang merugi?
Sebagaimana diingatkan dalam sebuah hadis yang menggetarkan hati:
“Celakalah seseorang yang memasuki bulan Ramadan, kemudian Ramadan itu berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan.” (HR Tirmidzi).
Maka, Idulfitri bukan sekadar ajang memamerkan baju baru atau hidangan mewah. Idulfitri adalah momen muhasabah (koreksi diri). Setelah sebulan ditempa, apakah hati kita menjadi lebih lembut? Idulfitri juga bukan sekadar tentang kembali makan dan minum. Secara bahasa, “Id” berarti kembali, dan “fitrah” adalah keadaan asal yang suci. Kita ingin kembali seperti bayi yang baru lahir: tanpa noda, tanpa benci, dan tanpa dendam.
Namun, bagaimana mungkin kita menjadi suci jika hati masih menyimpan ganjalan terhadap sesama? Bagaimana mungkin Allah mengampuni kita, sementara kita belum memaafkan orang lain? Jangan biarkan Idulfitri berlalu hanya sebagai ritual tahunan tanpa perubahan akhlak dalam diri.
Idulfitri adalah momen “pulang”. Bukan hanya pulang ke kampung halaman secara fisik, melainkan juga pulang kepada hakikat kemanusiaan. Manusia yang suci adalah mereka yang telah dimaafkan oleh Penciptanya dan oleh sesamanya.
Ingatlah, pintu surga yang paling dekat di dunia ini adalah orang tua kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Rida Allah terletak pada rida kedua orang tua, dan murka Allah terletak pada murka keduanya.” (HR Tirmidzi).
Di momen yang fitri ini, lihatlah ke kanan dan kiri. Jika hari ini kita masih bisa mencium tangan ayah dan ibu, bersyukurlah. Itu adalah kemewahan yang tidak dimiliki semua orang. Bayangkan wajah mereka: mungkin kerutan bertambah dan langkah semakin berat, tetapi doa mereka untuk kita tak pernah putus.
Jika mereka masih ada, pulanglah. Dekaplah mereka. Jangan menunggu hingga mereka tiada, baru kita menangis di atas pusaranya. Mintalah maaf atas lisan yang pernah menyakiti atau atas kesibukan yang membuat mereka merasa terabaikan. Kita tidak pernah tahu apakah Idulfitri tahun depan masih memberi kesempatan yang sama.
Jika mereka telah tiada, mereka kini hanya menunggu kiriman doa. Mereka tidak lagi dapat beramal untuk diri sendiri. Yang tersisa adalah harapan agar anak-anak yang ditinggalkan tetap mengingat dan mendoakan. Jadikan doa sebagai “hadiah Lebaran” terbaik untuk mereka di alam barzakh.
Mungkin hari ini adalah hari yang paling berat. Tidak ada lagi tangan tua untuk dicium, tidak ada lagi doa tulus yang dahulu mengetuk pintu langit demi kesuksesan kita. Kenanglah mereka dalam doa:
“Ya Allah, sampaikan salam rindu kami. Terangkanlah kubur mereka seterang pagi Idulfitri ini.”
Makna Kemenangan yang Sesungguhnya
Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Baqarah: 185:
“…dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya serta mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”
Kemenangan sejati adalah ketika kita mampu menundukkan ego. Kemenangan adalah saat kita mampu berkata, “Maafkan aku” kepada orang yang pernah kita sakiti, dan berkata, “Aku memaafkanmu” kepada mereka yang pernah melukai hati kita.
Jangan biarkan Idulfitri berlalu begitu saja sebagai ritual tahunan. Jadikan hari ini sebagai titik balik:
Jika ada benci, luruhkan.
Jika ada dendam, hapuskan.
Jika ada jarak, dekatkan.
Sebab, esok hari belum tentu kita kembali bersua dengan Ramadan. Mari rayakan hari ini dengan hati yang benar-benar bersih—sejernih tetesan air mata penyesalan, sesempurna sujud syukur kepada Sang Khalik.
Semoga Allah Swt. menerima amal ibadah kita, mengampuni segala khilaf, dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadan tahun depan dalam keadaan yang lebih baik. Aamiin.
Penulis: Muhammad Zainal Arifin
![]()





