Mentari.or.id-Beberapa hari terakhir, sebuah diskursus mengemuka di jagat pendidikan nasional. Diskursus tersebut berkaitan dengan pergeseran istilah yang tampak sederhana, tetapi sejatinya menyimpan implikasi filosofis yang mendalam: peralihan dari Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menuju Pengalaman Belajar Murid (PBM). Sekilas, perubahan ini dapat dipahami sebagai penyesuaian terminologi administratif belaka. Namun, jika ditelaah lebih jauh, pergeseran ini merupakan upaya mendasar untuk mendekonstruksi paradigma pendidikan yang berorientasi pada instruksi menuju paradigma yang menekankan kehadiran, kesadaran, dan keterlibatan utuh peserta didik.
Bagi Persyarikatan Muhammadiyah yang sejak awal kelahirannya mengusung semangat tajdid (pembaruan), gagasan ini sejatinya bukanlah hal baru. Ia justru merupakan sebuah kepulangan pada akar historis gerakan. Perubahan ini menggemakan kembali langkah Kiai Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran masyarakat Kauman—bukan sekadar melalui pengajaran formal, melainkan dengan menghadirkan pengalaman keberagamaan yang membebaskan dan memanusiakan.
Penjara Transaksional dan Pabrik Kepatuhan
Perlu kejujuran akademik untuk menelaah apa yang tersembunyi di balik istilah Kegiatan Belajar Mengajar. KBM merupakan residu paradigma industrialistik dalam dunia pendidikan. Guru diposisikan sebagai penyampai informasi, sementara murid dipandang sebagai wadah kosong yang harus diisi. Relasi yang terbangun bersifat transaksional: ada aktivitas mengajar, maka diasumsikan terjadi belajar.
Dalam skema ini, guru menjadi subjek tunggal pemilik kebenaran, sementara murid ditempatkan sebagai objek pasif. Keberhasilan pembelajaran diukur dari kemampuan murid mereproduksi informasi secara presisi, bukan dari pemaknaan atau transformasi kesadaran. Pendidikan pun tereduksi menjadi rutinitas mekanis yang kering dari nilai kemanusiaan.
Di lingkungan pendidikan Muhammadiyah, pertanyaan reflektif patut diajukan: apakah sekolah-sekolah kita masih terjebak dalam pola KBM semacam ini? Jika iya, maka kita sedang menjauh dari filosofi ulul albab. Pendidikan berisiko melahirkan manusia yang cerdas secara kognitif, tetapi tumpul secara empatik—manusia yang hafal dalil, tetapi asing dari makna. Tanpa disadari, ruang kelas berubah menjadi pabrik kepatuhan, bukan laboratorium pembentukan manusia seutuhnya.
Memasuki Ruang Pengalaman: Estetika Belajar dan Sentuhan Ruhani
Berbeda dengan KBM, istilah Pengalaman Belajar Murid memiliki dimensi yang jauh lebih kaya. Kata pengalaman mengandung unsur ruang, waktu, dan rasa. Mengalami berarti terlibat secara utuh—akal, emosi, dan spiritualitas berpadu dalam satu kesatuan proses.
Jika KBM berfokus pada apa yang disampaikan guru, maka PBM menitikberatkan pada apa yang dirasakan, dipahami, dan ditemukan murid. Pusat gravitasi pembelajaran pun bergeser dari dominasi guru menuju kedaulatan murid. Guru tidak lagi berperan sebagai figur utama di panggung, melainkan sebagai perancang pengalaman belajar.
Belajar dalam PBM dipahami sebagai sebuah peristiwa. Ia tidak dibatasi oleh bel masuk dan bel pulang, melainkan hadir sebagai proses penemuan. Ketika seorang siswa Muhammadiyah mempelajari biologi, misalnya, ia tidak sekadar menghafal struktur sel, tetapi mengalami kekaguman terhadap ayat-ayat kauniyah ciptaan Allah Swt.
Pengalaman juga menuntut keterlibatan aktif. Seseorang tidak dapat “mengalami” sesuatu atas nama orang lain. Murid harus berani melangkah, mencoba, bahkan gagal, sebelum akhirnya bangkit. Inilah wujud nyata semangat ijtihad dan kemandirian berpikir yang menjadi napas gerakan Muhammadiyah.
Protokol Pengalaman Sejati
Sejarah Muhammadiyah mencatat bahwa pendidikan berbasis pengalaman telah lama dipraktikkan oleh pendirinya. Ketika Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan Surah Al-Ma’un, beliau tidak berhenti pada aspek bacaan atau terjemahan. Setelah para murid merasa telah memahami, beliau justru menantang mereka untuk mengamalkannya: mencari anak yatim dan memberi mereka makan.
Inilah esensi pengalaman belajar. Kiai Dahlan tidak sekadar mengajar, tetapi menghadirkan pengalaman kemanusiaan. Ilmu tidak berhenti di ruang kognitif, melainkan menjelma menjadi kesadaran sosial dan tindakan nyata. Pengetahuan meresap hingga ke relung empati dan detak nurani.
Pertanyaan reflektif bagi lembaga pendidikan Muhammadiyah hari ini adalah: sudahkah kurikulum kita menghadirkan “Al-Ma’un” dalam bentuk pengalaman nyata? Ataukah kita masih terjebak pada angka-angka evaluasi yang dingin dan prosedural? Pergeseran istilah ini sejatinya adalah panggilan untuk menghidupkan kembali ruh Dahlanisme dalam praksis pendidikan kita.
Transformasi Amal Usaha Pendidikan
Pergeseran menuju PBM menuntut respons strategis, bukan sekadar penyesuaian administratif. Diperlukan transformasi ekosistem pendidikan secara menyeluruh.
Pertama, guru harus bertransformasi menjadi perancang lingkungan belajar. Perannya bukan lagi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator dan kurator pengalaman. Guru adalah penyulut api keingintahuan, bukan pemadamnya.
Kedua, batas-batas ruang kelas perlu diperluas. Pengalaman belajar tidak dapat dikurung dalam tembok sekolah. Sekolah Muhammadiyah perlu membuka diri terhadap realitas sosial: pasar, panti asuhan, bengkel, laboratorium alam, hingga ruang digital yang dikelola secara kritis.
Ketiga, sistem evaluasi harus bersifat humanis. Jika yang dinilai adalah pengalaman dan pertumbuhan, maka evaluasi tidak cukup berbentuk pilihan ganda. Diperlukan portofolio, refleksi naratif, dan penilaian proses yang merekam perubahan cara berpikir, penyelesaian masalah, serta pembentukan akhlak murid.
Akhirul Kalam: Menuju Fajar Pendidikan Berkemajuan
Pada akhirnya, kata-kata memiliki daya hidup. Dengan menyebutnya Pengalaman Belajar Murid, kita mengakui murid sebagai subjek pendidikan yang utuh—manusia dengan rasa, karsa, dan cipta. Kita memberi mereka ruang untuk tumbuh, menemukan, dan memaknai dunia dengan caranya sendiri.
Bagi Muhammadiyah, perubahan ini merupakan ujian konsistensi terhadap visi Islam Berkemajuan. Kita tidak boleh terjebak menjadi penjaga museum pendidikan masa lalu. Sebaliknya, kita harus berada di garda depan dalam mendefinisikan masa depan pendidikan yang memanusiakan.
Pendidikan bukanlah proses mengisi bejana, melainkan menyalakan api. Api itu hanya dapat menyala melalui gesekan antara jiwa murid dan realitas yang mereka alami secara langsung. Mari kita siapkan generasi yang tidak hanya mengetahui Islam, tetapi mengalami Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Mari kita ubah sekolah menjadi ruang pengalaman, tempat setiap tarikan napas belajar bernilai ibadah, dan setiap penemuan menjadi jalan menuju makrifat.
Penulis: Ajun Pujang Anom (Anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro)





