Dari Ramadan untuk Persyarikatan:Menguatkan Ranting, Meluruskan Niat, Meneguhkan Gerakan

Share

Mentari.or.id-Pergerakan ranting merupakan fondasi epistemologis sekaligus praksis bagi keberlangsungan Persyarikatan Muhammadiyah. Ranting tidak semestinya diposisikan semata sebagai entitas administratif, melainkan sebagai ruang dialektika antara nilai, gagasan, dan aksi nyata di tengah umat. Oleh karena itu, penguatan pergerakan ranting harus terus dilakukan secara berkelanjutan agar mampu menopang eksistensi dan perkembangan Persyarikatan secara utuh. Dalam konteks ini, Ramadan hadir sebagai momentum strategis untuk melakukan refleksi mendalam sekaligus reposisi gerakan—sebuah waktu yang tepat untuk berbenah, meluruskan orientasi, dan meneguhkan kembali cita-cita tajdid Muhammadiyah.

Kepemimpinan menjadi variabel determinan dalam menghidupkan, atau sebaliknya melemahkan, dinamika ranting. Tangan dingin pimpinan bukan sekadar metafora, melainkan indikator kapasitas kepemimpinan dalam membaca potensi, mengelola perbedaan, serta menumbuhkan kepercayaan kolektif. Sikap ngopeni dan ngayomi yang ditunjukkan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) memiliki implikasi besar terhadap keberlangsungan ranting. Dari sanalah tumbuh rasa memiliki, loyalitas ideologis, dan keberanian untuk bergerak. Dalam spirit Ramadan yang sarat dengan nilai kesabaran dan kebijaksanaan, kepemimpinan dituntut tidak hanya efektif secara struktural, tetapi juga matang secara spiritual dan moral.

Lebih jauh, keberadaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) harus dipahami dalam kerangka nilai dan tujuan Persyarikatan, bukan semata sebagai simbol kemajuan institusional. Banyaknya AUM tidak serta-merta mencerminkan kemajuan Muhammadiyah apabila tidak disertai niat yang tulus, keikhlasan, serta kesungguhan dalam menjalankan amanat ideologis. Ramadan mengajarkan bahwa kuantitas tanpa kualitas ruhani akan kehilangan makna. AUM sejatinya merupakan instrumen dakwah dan pemberdayaan, yang keberadaannya harus senantiasa terhubung dengan misi pencerahan dan pengabdian kepada umat.

Sinergi antara majelis, lembaga, organisasi otonom (ortom), dan AUM menjadi keniscayaan dalam membangun ekosistem gerakan yang sehat dan berdaya. Kerja kolaboratif yang dilandasi kesadaran ideologis akan melahirkan ghirah bermuhammadiyah yang autentik, bukan semangat semu yang berhenti pada seremoni dan rutinitas belaka. Ramadan menjadi ruang konsolidasi moral dan intelektual, ketika seluruh elemen Persyarikatan dipanggil untuk menyatukan visi, menyelaraskan langkah, serta meneguhkan komitmen kolektif demi terwujudnya dakwah Islam berkemajuan.

Sebaliknya, apabila AUM hanya berorientasi pada keberlangsungan dirinya sendiri tanpa kontribusi nyata bagi kemajuan Muhammadiyah secara keseluruhan, maka AUM tersebut berpotensi kehilangan ruh gerakannya. Ia mungkin tumbuh secara fisik, tetapi mandul secara ideologis. Ramadan seharusnya menjadi alarm kesadaran bahwa setiap struktur, setiap amal usaha, dan setiap gerak organisasi mesti berpijak pada nilai keikhlasan, pengabdian, serta tanggung jawab sejarah. Inilah saatnya Persyarikatan berbenah—menyucikan niat, menguatkan ranting, dan memastikan Muhammadiyah tetap hidup sebagai gerakan nilai, bukan sekadar organisasi formal.

Penulis: Suwadi Pranoto, S.Pd. (Wakil Ketua Koordinator Bidang Pustaka dan Digitalisasi, Penanggulangan Bencana PDM Bojonegoro)

Loading

Admin

Salah satu rakyat biasa di negara Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *