Mentari.or.id-Pembelajaran Matematika di kelas IX SMP Muhammadiyah 9 Bojonegoro berlangsung dengan suasana berbeda melalui penerapan gim edukatif “Math Detective” pada materi kesebangunan dan kekongruenan. Kegiatan ini menghadirkan simulasi kasus sebagai pemantik pembelajaran, sehingga siswa tidak hanya mengerjakan soal, tetapi juga melakukan analisis layaknya seorang penyelidik. Selasa (24/02/2026).
Dalam proses pembelajaran, siswa menerima sejumlah “barang bukti” berupa gambar bangun datar. Mereka diminta menentukan apakah bangun-bangun tersebut memiliki hubungan kesebangunan atau kekongruenan, disertai alasan dan pembuktian matematis yang logis.
Diskusi kelas berlangsung aktif dan dinamis. Para siswa membandingkan sisi-sisi yang bersesuaian, menghitung perbandingan panjang, serta memastikan kesamaan sudut sebelum menarik kesimpulan atas hasil investigasi mereka. Guru berperan sebagai fasilitator dengan mengarahkan alur berpikir siswa tanpa langsung memberikan jawaban, sehingga proses penemuan konsep tetap berada di tangan peserta didik.
Saat dimintai tanggapan, respons siswa pun sangat positif. Agha, siswa kelas IX A, menilai pembelajaran tersebut terasa lebih hidup dibandingkan pembelajaran matematika pada umumnya. Senada dengan itu, Sultan, juga dari kelas IX A, menyebut kegiatan tersebut “menyenangkan” karena terasa seperti memecahkan teka-teki, bukan sekadar mengerjakan latihan soal.
Melalui pembelajaran berbasis gim ini, siswa tidak hanya memahami konsep kesebangunan dan kekongruenan secara teoretis, tetapi juga belajar menyusun argumen logis berdasarkan data yang tersedia. Proses pembelajaran menjadi lebih bermakna, interaktif, serta mampu menumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam berpikir kritis.
Inovasi pembelajaran ini menunjukkan bahwa matematika dapat dikemas secara kreatif tanpa mengurangi kedalaman materi. Dengan pendekatan yang tepat, siswa dapat belajar dengan semangat, antusiasme tinggi, dan pemahaman konsep yang lebih kuat.
Penulis: Ulfa Rosyidah
![]()





