MENTARI.OR.ID II Di tengah riuhnya wacana publik yang kerap kehilangan arah moral, karya Ahmad Syafii Maarif berjudul Bulir-Bulir Refleksi Sang Mujahid hadir sebagai oase yang menyejukkan sekaligus menggugah. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan reflektif, melainkan rekaman kegelisahan seorang intelektual yang tidak pernah lelah merawat akal sehat dan nurani kebangsaan. (02/05/2026)
Buya Syafii menulis dengan nada yang jujur bahkan terkadang terasa getir. Ia tidak berusaha menyenangkan pembaca, tetapi justru menantang mereka untuk berpikir ulang tentang banyak hal: tentang agama yang kerap diseret ke ruang sempit kepentingan, tentang politik yang kehilangan etika, hingga tentang masyarakat yang semakin mudah terbelah.
Yang menarik, refleksi-refleksi dalam buku ini tidak disusun sebagai argumentasi akademik yang kaku. Sebaliknya, ia mengalir seperti percakapan batin ringan dibaca, tetapi berat direnungkan. Setiap “bulir” seolah menjadi potongan kecil dari mozaik besar tentang Indonesia: sebuah bangsa yang kaya, namun terus diuji oleh konflik nilai dan krisis keteladanan.
Dari sudut pandang penulis, kekuatan utama buku ini justru terletak pada keberpihakannya yang jelas: pada kemanusiaan. Buya Syafii tidak berbicara atas nama kelompok, golongan, atau ideologi sempit. Ia berdiri di atas prinsip universal keadilan, kejujuran, dan keberanian moral. Dalam konteks ini, kritik-kritiknya menjadi relevan, bahkan terasa semakin tajam ketika dibaca di masa sekarang.
Buku ini juga secara implisit menyampaikan satu pesan penting: bahwa krisis terbesar bangsa ini bukan semata ekonomi atau politik, melainkan krisis integritas. Ketika agama kehilangan ruh kemanusiaannya, dan kekuasaan kehilangan rasa malunya, maka yang tersisa hanyalah formalitas tanpa makna.
Namun, Bulir-Bulir Refleksi Sang Mujahid tidak berhenti pada kritik. Di balik setiap kegelisahan, tersimpan harapan. Buya Syafii percaya bahwa perubahan selalu mungkin selama masih ada individu-individu yang mau berpikir jernih dan bertindak lurus. Optimisme ini terasa halus, tetapi justru itulah yang membuat buku ini tidak jatuh pada pesimisme.
Sebagai karya, buku ini layak dibaca bukan hanya oleh kalangan akademisi atau aktivis, tetapi juga oleh siapa saja yang peduli pada masa depan Indonesia. Ia tidak menawarkan solusi instan, tetapi memberikan sesuatu yang jauh lebih penting: kesadaran.
Pada akhirnya, membaca Bulir-Bulir Refleksi Sang Mujahid adalah seperti bercermin dan tidak semua orang siap melihat bayangannya sendiri dengan jujur. Namun justru di situlah letak pentingnya buku ini: ia memaksa kita untuk tidak sekadar melihat, tetapi juga berpikir, dan mungkin berubah.
Penulis: Fahrul Isna Arsyada
![]()





