MENTARI.OR.ID II Bojonegoro, Jumat, 10 April 2026 — Eco Bhinneka Muhammadiyah meluncurkan program Together for People and Planet (ToPP) GreenAbility sebagai upaya memperkuat peran difabel dalam aksi iklim yang inklusif dan berkeadilan. Program ini secara khusus menekankan pemberdayaan difabel, terutama perempuan, agar tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga subjek utama dalam gerakan lingkungan.
Peluncuran program yang digelar di Bojonegoro ini menjadi penanda dimulainya kolaborasi selama tiga tahun ke depan antara Eco Bhinneka Muhammadiyah dengan komunitas difabel, khususnya di Desa Bulu dan Desa Mlideg. Program ini juga melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas lintas iman dan pegiat lingkungan.
Sejumlah organisasi turut terlibat dalam program ini, di antaranya Koalisi Perempuan Indonesia, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Orang Muda Katolik, Nasyiatul ‘Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, guru inklusi, serta Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Bojonegoro.
Dalam pendekatan yang diusung, program ini mengedepankan konsep Green Al Ma’un, yakni penguatan berbasis nilai keagamaan dan komunitas. Difabel, terutama perempuan, didorong untuk meningkatkan literasi lingkungan, keterampilan praktis seperti pengelolaan energi rumah tangga dan pengurangan limbah, serta keterlibatan aktif dalam pengambilan keputusan di komunitas.
Selain itu, program ini juga menekankan penguatan green entrepreneurship bagi difabel sebagai upaya menghubungkan kemandirian ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan. Melalui pelatihan, pendampingan, dan akses pasar, difabel diarahkan untuk mengembangkan usaha ramah lingkungan, seperti pengolahan limbah, produk berkelanjutan, hingga praktik efisiensi energi.
Kegiatan peluncuran berlangsung meriah dengan penampilan siswa dari sekolah inklusi, yakni PAUD ABA Inklusi 1 dan PAUD ABA Inklusi 3. Penampilan angklung oleh anak-anak berkebutuhan khusus menjadi penanda dimulainya program ToPP GreenAbility.
Usai peluncuran, kegiatan dilanjutkan dengan talk show bertema “Penguatan Kapasitas Difabel dan Sinergi Lintas Iman dalam Aksi Konservasi Lingkungan” yang menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Sosial, serta Ketua Majelis Pemberdayaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PDM Bojonegoro.
Kegiatan berlanjut pada Sabtu, 11 April 2026, dengan pelatihan konservasi lingkungan yang menghadirkan fasilitator dari komunitas Nol Sampah. Peserta mendapatkan pelatihan pengolahan limbah melalui pembuatan eco enzyme, eco brick, sabun organik, serta budidaya maggot. Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman tentang perubahan iklim, pemanasan global, dan dampak limbah plastik terhadap lingkungan dan kesehatan.
Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Bojonegoro, Zuliyatin Lailiyah, turut hadir memberikan dukungan dalam kegiatan tersebut. Ia berharap pelatihan ini dapat menjadi langkah awal bagi difabel untuk mengembangkan aktivitas konservasi sekaligus membuka peluang ekonomi.
Perwakilan Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Bojonegoro, Martono, menyampaikan apresiasi atas pelatihan yang diberikan. Menurutnya, materi pengolahan limbah sangat bermanfaat karena selama ini masih minim dipahami oleh komunitas difabel.
“Sebelumnya kami hanya mengetahui bahwa limbah berbahaya, tetapi belum memahami cara mengolahnya. Melalui pelatihan ini, kami menjadi lebih paham dan siap mempraktikkannya,” ujar Brian dari komunitas Orang Muda Katolik.
Melalui program ToPP GreenAbility, diharapkan tercipta gerakan kolektif yang mampu mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan secara inklusif. Program ini juga diharapkan dapat memperkuat peran difabel sebagai agen perubahan dalam aksi iklim di tingkat komunitas.
![]()





