MENTARI.OR.ID II Suatu waktu saya memperhatikan suasana salat berjamaah di sebuah masjid. Bangunannya megah, lantainya bersih, pendingin ruangan terpasang, dan suara imam terdengar merdu. Namun ada satu hal yang mengusik pikiran. Sebagian besar jamaah adalah para orang tua. Rambut yang memutih lebih banyak terlihat daripada wajah-wajah muda yang penuh semangat. Anak-anak hanya datang ketika diantar orang tuanya, sedangkan para remaja dan pemuda hampir tidak tampak. (17/07/2026)
Pemandangan seperti ini bukan hanya terjadi di satu tempat. Hampir di setiap daerah kita dapat menjumpai kondisi yang serupa. Pertanyaannya, ke mana jamaah anak muda? Mengapa masjid yang dahulu menjadi pusat kehidupan masyarakat kini semakin jauh dari kehidupan generasi muda?
Pertanyaan ini tidak boleh dijawab dengan menyalahkan anak muda semata. Justru pertanyaan tersebut harus menjadi bahan muhasabah bersama. Sebab jika hari ini masjid kehilangan generasi mudanya, maka beberapa puluh tahun ke depan masjid berpotensi kehilangan penerusnya.
Rasulullah ﷺ telah memberikan perhatian besar kepada pemuda. Dalam hadis yang sangat masyhur disebutkan bahwa salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat adalah pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, dan dalam riwayat lain disebutkan tentang orang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid. Pesan ini menunjukkan bahwa kedekatan pemuda dengan masjid bukan sekadar aktivitas ibadah, tetapi merupakan investasi peradaban.
Sejarah Islam juga membuktikan bahwa perubahan besar selalu digerakkan oleh anak-anak muda. Usamah bin Zaid memimpin pasukan di usia belasan tahun. Ali bin Abi Thalib menerima Islam sejak usia muda. Mus’ab bin Umair menjadi duta dakwah pertama ke Madinah ketika masih sangat muda. Mereka ditempa bukan di tempat hiburan, melainkan di lingkungan yang dekat dengan masjid dan majelis ilmu.
Lalu mengapa sekarang kondisi itu berubah?
Era digital telah mengubah cara hidup manusia. Anak muda hidup dalam dunia yang penuh dengan informasi, hiburan, media sosial, gim, dan berbagai aktivitas virtual. Waktu mereka banyak tersita oleh layar telepon genggam. Jika masjid tidak mampu hadir dalam kehidupan mereka, maka ruang itu akan diisi oleh dunia lain yang belum tentu membawa manfaat.
Namun menyalahkan teknologi juga bukan solusi. Teknologi hanyalah alat. Yang menjadi persoalan adalah ketika masjid tidak mampu menawarkan aktivitas yang menarik, bermanfaat, dan relevan bagi kehidupan generasi muda.
Masjid seharusnya tidak hanya menjadi tempat salat lima waktu. Masjid harus menjadi pusat pembelajaran, pusat pembinaan karakter, pusat kreativitas, bahkan pusat pemberdayaan ekonomi umat. Anak muda membutuhkan ruang untuk belajar, berdiskusi, berkarya, berorganisasi, berolahraga, mengembangkan bakat, hingga memperoleh pendampingan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Sayangnya, tidak sedikit pengurus masjid yang lebih sibuk memikirkan pembangunan fisik daripada pembangunan manusia. Kita bangga ketika kubah semakin indah, menara semakin tinggi, dan lantai semakin mewah. Namun apakah kita juga bangga ketika jumlah jamaah Subuh bertambah? Apakah kita memiliki data berapa banyak remaja yang aktif di masjid? Apakah ada program yang secara khusus dirancang untuk membina mereka?
Masjid yang makmur bukan hanya masjid yang ramai saat pembangunan atau penggalangan dana. Masjid yang makmur adalah masjid yang hidup dengan ilmu, dakwah, pendidikan, kepedulian sosial, dan aktivitas generasi mudanya.
Kita juga perlu mengevaluasi keberlanjutan pendidikan keagamaan. Banyak anak rajin mengikuti TPQ dan Madrasah Diniyah ketika masih kecil. Mereka hafal doa, surat pendek, bahkan mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Namun setelah lulus, mereka kehilangan wadah pembinaan. Tidak ada komunitas remaja masjid yang aktif, tidak ada majelis taklim khusus pemuda, tidak ada mentor yang mendampingi mereka. Akibatnya, hubungan mereka dengan masjid perlahan memudar.
Fenomena ini harus menjadi perhatian bersama. Pembinaan tidak boleh berhenti setelah anak lulus TPQ atau Madin. Justru pada masa remaja tantangan semakin besar. Mereka membutuhkan lingkungan yang baik, sahabat yang saleh, pembimbing yang memahami dunia mereka, dan masjid yang menerima mereka apa adanya.
Masjid juga perlu menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat. Banyak anak muda menghadapi persoalan pekerjaan, keterampilan, dan usaha.
Mengapa masjid tidak menghadirkan pelatihan kewirausahaan, kelas digital, pelatihan desain grafis, pemasaran daring, pertanian modern, atau pelatihan keterampilan lainnya? Ketika masjid mampu menjawab kebutuhan hidup mereka, maka kedekatan dengan masjid akan tumbuh secara alami.
Di sisi lain, dakwah juga harus beradaptasi. Anak muda tidak cukup hanya diajak datang ke masjid, tetapi juga harus dijangkau melalui media yang mereka gunakan setiap hari.
Konten dakwah yang kreatif, pendek, inspiratif, dan menyentuh persoalan nyata akan lebih mudah diterima daripada ceramah yang hanya bersifat satu arah. Media sosial bukanlah musuh dakwah, tetapi ladang dakwah yang harus dimanfaatkan secara bijak.
Peran keluarga juga sangat menentukan. Kecintaan kepada masjid tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi dibangun sejak kecil. Anak yang terbiasa diajak salat berjamaah, mengikuti pengajian, dan melihat teladan orang tuanya akan memiliki ikatan emosional dengan masjid. Sebaliknya, jika orang tua sendiri jarang hadir di masjid, akan sulit berharap anak-anak tumbuh mencintai rumah Allah.
Pemerintah desa, sekolah, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang sama. Masjid bukan hanya milik takmir, tetapi milik umat. Karena itu, penguatan fungsi masjid harus menjadi gerakan bersama. Dibutuhkan sinergi antara pengurus masjid, TPQ, Madin, sekolah, organisasi kepemudaan, Karang Taruna, Muhammadiyah, Aisyiyah, NU, dan seluruh komponen masyarakat agar masjid benar-benar menjadi pusat pembangunan manusia.
Kita membutuhkan Gerakan Cinta Masjid yang tidak berhenti pada slogan. Gerakan ini harus diwujudkan dalam program nyata, seperti pembentukan komunitas remaja masjid, kajian kreatif, kelas keterampilan, perpustakaan digital, pelatihan wirausaha, bakti sosial, olahraga bersama, hingga pendampingan pendidikan dan karier bagi generasi muda.
Masjid harus menjadi tempat yang dirindukan, bukan hanya didatangi ketika salat Jumat, Ramadan, atau ada musibah. Anak muda harus merasa bahwa masjid adalah rumah kedua mereka; tempat belajar, bertumbuh, berbagi, dan mengabdi.
Akhirnya, kemegahan sebuah masjid tidak diukur dari tingginya menara atau indahnya kubah. Kemegahan sesungguhnya terlihat dari hidupnya jamaah, semaraknya ilmu, kuatnya kepedulian sosial, dan banyaknya anak muda yang memenuhi saf-saf salat.
Jangan sampai kita mewariskan bangunan masjid yang megah, tetapi kehilangan generasi penerus yang akan memakmurkannya. Mari bersama-sama menghidupkan kembali Gerakan Kembali ke Masjid, agar masjid kembali menjadi pusat peradaban Islam. Sebab apabila hari ini kita berhasil menghadirkan anak muda di masjid, insya Allah kita sedang menyiapkan lahirnya generasi emas yang akan memimpin umat pada masa depan, bukan generasi yang cemas dan kehilangan arah.
Penulis: Suwadi Pranoto, S.Pd.
![]()





