MENTARI.OR.ID II Di tengah kehidupan masyarakat modern yang semakin dipenuhi ketegangan sosial, polarisasi politik, dan budaya komunikasi yang keras di media digital, humor sering kali kehilangan fungsi dasarnya sebagai perekat sosial. Candaan berubah menjadi alat ejekan, sindiran personal, bahkan sarana menyebarkan kebencian. Dalam situasi seperti itu, buku Guyon Waton Lucu Bermutu ala Muhammadiyah karya Abdul Mu’ti hadir bukan sekadar sebagai bacaan ringan, melainkan sebagai refleksi penting tentang bagaimana humor seharusnya ditempatkan dalam kehidupan sosial dan keagamaan.
Buku ini memperlihatkan kemampuan Abdul Mu’ti dalam memadukan kecerdasan intelektual, sensitivitas sosial, dan keluwesan budaya dalam satu narasi yang sederhana tetapi mengandung kedalaman makna. Humor dalam buku ini bukan humor yang dibangun dari sensasi atau olok-olok murahan. Sebaliknya, ia hadir sebagai medium dakwah, pendidikan publik, sekaligus kritik sosial yang santun.
Abdul Mu’ti tampaknya memahami bahwa masyarakat Indonesia memiliki tradisi humor yang kuat. Dalam budaya Nusantara, humor bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari cara masyarakat menyampaikan kritik dan kebijaksanaan. Tradisi “guyon” dalam masyarakat Jawa, misalnya, sering digunakan untuk menegur tanpa melukai, mengkritik tanpa mempermalukan, dan mencairkan suasana tanpa kehilangan substansi. Tradisi inilah yang terasa hidup dalam buku tersebut.
Melalui berbagai anekdot, pengalaman keseharian, dan potret sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat, Abdul Mu’ti mengajk pembaca melihat kenyataan dengan cara yang lebih jernih dan manusiawi. Ia menghadirkan humor yang tidak berjarak dengan realitas sosial. Pembaca dapat menemukan cerita tentang kehidupan beragama, pendidikan, birokrasi, media sosial, hingga fenomena perilaku masyarakat modern yang disampaikan dengan gaya ringan namun tetap tajam.
Kekuatan utama buku ini terletak pada kemampuannya menghadirkan kritik tanpa menimbulkan permusuhan. Dalam tradisi komunikasi publik saat ini, kritik sering kali tampil dalam bentuk kemarahan dan penghinaan. Abdul Mu’ti memilih jalan berbeda. Ia menggunakan humor sebagai strategi komunikasi yang menenangkan sekaligus menyadarkan. Pembaca diajak tertawa, tetapi di saat yang sama juga diajak berpikir.
Hal itu menjadi penting karena masyarakat modern sedang menghadapi krisis dalam ruang dialog publik. Media sosial membuat setiap orang mudah berbicara, tetapi tidak selalu mudah mendengar. Perdebatan sering berubah menjadi pertengkaran. Humor pun kehilangan kedewasaannya karena lebih diarahkan untuk menyerang daripada menyatukan. Buku ini menawarkan alternatif penting: bahwa humor dapat menjadi sarana membangun literasi sosial dan kedewasaan publik.
Dalam konteks Muhammadiyah, buku ini juga menghadirkan perspektif yang menarik. Selama ini Muhammadiyah kerap dipersepsikan sebagai organisasi yang serius, formal, dan identik dengan pendekatan rasional. Namun melalui buku ini, Abdul Mu’ti memperlihatkan sisi lain Muhammadiyah yang lebih cair, akrab, dan humanis. Humor ditempatkan bukan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan agama, melainkan sebagai bagian dari kebijaksanaan dalam berdakwah.
Pendekatan ini sebenarnya memiliki akar kuat dalam tradisi Islam. Dakwah tidak selalu dilakukan melalui ceramah yang kaku dan formal. Dalam sejarah Islam, banyak ulama menggunakan pendekatan yang lembut, dialogis, dan penuh hikmah dalam menyampaikan pesan-pesan moral kepada masyarakat. Humor yang sehat menjadi bagian dari cara membangun kedekatan emosional antara penyampai pesan dan masyarakatnya.
Di sisi lain, buku ini juga relevan dibaca dalam konteks pendidikan karakter. Abdul Mu’ti secara tidak langsung menunjukkan bahwa kecerdasan tidak harus tampil dengan wajah serius dan menegangkan. Pendidikan dapat disampaikan melalui cerita ringan, candaan, dan percakapan sehari-hari. Dalam dunia pendidikan modern yang sering terlalu menekankan aspek formalitas, pendekatan seperti ini menjadi sangat penting.
Selain itu, buku ini memperlihatkan bahwa humor memiliki dimensi etika. Tidak semua yang lucu layak ditertawakan. Di era digital, banyak konten humor dibangun di atas penghinaan terhadap fisik, identitas, agama, atau kondisi sosial seseorang. Buku ini mengingatkan bahwa humor seharusnya menjaga martabat manusia, bukan merusaknya.
Abdul Mu’ti tampaknya ingin mengembalikan fungsi humor sebagai sarana menciptakan optimisme sosial. Dalam masyarakat yang mudah marah dan cepat tersinggung, humor yang sehat dapat menjadi ruang pendingin yang menenangkan. Tertawa bukan untuk melupakan masalah, tetapi untuk melihat persoalan hidup dengan sudut pandang yang lebih dewasa.
Karena itu, Guyon Waton Lucu Bermutu ala Muhammadiyah tidak hanya layak dibaca sebagi kumpulan humor atau cerita ringan. Buku ini dapat dipahami sebagai refleksi sosial tentang pentingnya menjaga etika komunikasi, memperkuat budaya literasi, dan membangun kehidupan publik yang lebih sehat.
Pada akhirnya, buku ini menyampaikan satu pesan penting: humor terbaik bukanlah humor yang membuat orang lain terluka, melainkan humor yang membuat manusia lebih bijak, lebih tenang, dan lebih dekat satu sama lain.
![]()





