Mengenal Manhaj Tarjih: Bekal Guru SD/MI Muhammadiyah Se PCM Sumberrejo dalam Mendidik Generasi Berkemajuan

Share

BOJONEGORO – Guru Muhammadiyah tidak hanya berperan sebagai pendidik yang mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mengemban amanah dakwah dan pembinaan karakter peserta didik. Karena itu, pemahaman terhadap Manhaj Tarjih Muhammadiyah menjadi bekal penting dalam membentuk generasi Islam yang berkemajuan.

Hal tersebut disampaikan oleh Ahmad Syafi’i dari Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Bojonegoro dalam kegiatan Penguatan Ideologi Guru SD/MI Muhammadiyah se-Cabang Sumberrejo yang digelar pada Sabtu (27/6/2026).

Dalam pemaparannya, Ahmad Syafi’i menjelaskan bahwa Manhaj Tarjih merupakan metode berpikir dan metode memahami ajaran Islam yang dikembangkan Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid. Manhaj ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan fikih, tetapi juga menjadi pedoman dalam memahami akidah, ibadah, akhlak, muamalah, hingga berbagai persoalan kontemporer yang berkembang di tengah masyarakat.

“Menjadi guru Muhammadiyah tidak cukup hanya menguasai materi pembelajaran. Guru juga harus memiliki cara pandang keislaman yang benar sehingga mampu menjadi teladan sekaligus pembimbing bagi peserta didik,” ujarnya.

Menurutnya, dalam Muhammadiyah, manhaj memiliki kedekatan makna dengan ijtihad, yaitu aktivitas intelektual untuk merespons berbagai persoalan keagamaan maupun sosial kemanusiaan berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang maqbulah. Dengan pendekatan tersebut, Islam dipahami sebagai ajaran yang hidup, relevan, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan pijakan pada nilai-nilai wahyu.

Ia menegaskan, pemahaman terhadap Manhaj Tarjih memiliki arti strategis bagi guru Muhammadiyah karena guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk pola pikir dan karakter peserta didik. Oleh sebab itu, guru perlu memiliki wawasan keislaman yang utuh, menghargai perbedaan dalam wilayah ijtihadiyah, terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, serta tidak terjebak pada sikap fanatik terhadap satu mazhab tertentu.

Dalam kegiatan tersebut juga dijelaskan bahwa Manhaj Tarjih Muhammadiyah menggunakan tiga pendekatan utama yang saling melengkapi, yaitu pendekatan bayani yang bertumpu pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, pendekatan burhani yang memanfaatkan akal, logika, dan ilmu pengetahuan, serta pendekatan irfani yang menumbuhkan kedalaman spiritual dan keikhlasan dalam beragama.

“Kombinasi ketiga pendekatan tersebut menjadikan pemahaman Islam Muhammadiyah bersifat komprehensif, moderat, toleran, rasional, dan terbuka terhadap pembaruan,” jelasnya.

Selain itu, Ahmad Syafi’i juga menekankan pentingnya sikap dewasa dalam menyikapi perbedaan pendapat. Menurutnya, perbedaan dalam persoalan ijtihadiyah merupakan bagian dari khazanah intelektual Islam yang harus disikapi dengan bijaksana.

“Perbedaan tidak semestinya menjadi sumber perpecahan. Justru harus menjadi ruang untuk saling menghargai, berdialog, dan memperkaya wawasan. Nilai inilah yang perlu ditanamkan kepada peserta didik sejak dini,” tambahnya.

Melalui kegiatan penguatan ideologi ini, para guru diharapkan semakin memahami jati diri Muhammadiyah serta mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam Berkemajuan dalam proses pembelajaran di sekolah.

Pada akhirnya, pemahaman terhadap Manhaj Tarjih tidak hanya memperkuat wawasan keagamaan guru, tetapi juga membentuk karakter pendidik yang mampu memadukan keteguhan beragama dengan keluasan berpikir. Dari ruang-ruang kelas sekolah Muhammadiyah, diharapkan lahir generasi yang berakidah lurus, berakhlak mulia, berilmu, cerdas, serta siap memberikan kontribusi terbaik bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Oleh: Ahmad Syafi’i
Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Bojonegoro

Loading

Admin

Salah satu rakyat biasa di negara Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *