MENTARI.OR.ID II Bojonegoro — Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa dampak besar bagi kehidupan remaja, khususnya dalam pola komunikasi, belajar, hingga interaksi sosial. Di tengah tingginya akses internet, tantangan literasi digital di kalangan pelajar Bojonegoro kini menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Saat ini, sebanyak 96,69% remaja telah terkoneksi dengan internet. Namun, mayoritas aktivitas digital masih didominasi untuk hiburan dan media sosial. Tercatat 91,16% penggunaan internet dimanfaatkan untuk hiburan dan 88,85% digunakan untuk media sosial dengan rata-rata penggunaan lebih dari tiga jam per hari. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa akses digital sudah tinggi, tetapi belum sepenuhnya diarahkan pada aktivitas yang produktif dan edukatif.
Di sisi lain, kesiapan infrastruktur digital di Bojonegoro sebenarnya cukup baik. Namun, hasil Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) tahun 2025 menunjukkan skor Kabupaten Bojonegoro masih berada pada angka 43,80 dengan status “cukup”. Hal ini menunjukkan masih adanya kesenjangan besar antara ketersediaan akses digital dengan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara sehat, aman, dan produktif.
Berbagai ancaman digital juga mulai banyak dialami remaja. Mulai dari hoaks dan disinformasi, cyberbullying, judi online, pornografi, kecanduan digital, hingga penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI). Bahkan, hampir 70% anak usia 8–18 tahun dilaporkan pernah mengalami minimal satu risiko digital dalam setahun terakhir.
Rendahnya budaya verifikasi informasi menjadi salah satu persoalan utama. Sebanyak 68,4% remaja diketahui pernah menyebarkan informasi tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu, sementara 56,1% lainnya mengaku masih kesulitan membedakan berita asli dan hoaks. Fenomena ini menjadi tantangan serius di tengah derasnya arus informasi digital saat ini.
Selain itu, kasus cyberbullying juga menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Sebanyak 45,35% remaja mengaku pernah menjadi korban cyberbullying, sedangkan 38,41% mengaku pernah menjadi pelaku. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan mental remaja, tetapi juga memengaruhi lingkungan belajar dan hubungan sosial di sekolah.
Ancaman lain yang semakin meningkat adalah judi online dan penyalahgunaan AI. Judi online kini semakin mudah diakses oleh generasi muda melalui berbagai platform digital. Sementara itu, penyalahgunaan AI mulai muncul dalam bentuk plagiarisme akademik, manipulasi informasi, hingga pembuatan konten palsu atau deepfake yang berpotensi merugikan banyak pihak.
Situasi ini membuat sekolah memiliki peran penting sebagai ruang aman pertama dalam membangun budaya digital sehat bagi siswa. Aktivitas digital siswa yang tidak terkontrol kini berdampak langsung terhadap proses belajar, konflik sosial antar pelajar, hingga reputasi sekolah akibat jejak digital negatif.
Karena itu, diperlukan kolaborasi antara sekolah, orang tua, pemerintah, dan masyarakat untuk memperkuat literasi digital remaja. Literasi digital tidak hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga membangun karakter, etika, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab dalam memanfaatkan ruang digital secara positif.
Kontributor: PDPM Bojonegoro
![]()





